Ke depan, PALASARA Indonesia dituntut untuk terus memperkuat jejaring, meningkatkan kapasitas kelembagaan, serta menghadirkan program-program yang berdampak langsung dan berkelanjutan.

Sinergi dengan pemerintah, masyarakat sipil, dunia usaha, serta seluruh elemen bangsa menjadi kunci agar organisasi ini tetap relevan dan memberi manfaat luas.
“Akhir kata, saya mengajak seluruh keluarga besar PALASARA Indonesia untuk menjadikan momentum milad dan pengukuhan ini sebagai titik tolak penguatan komitmen, persatuan, dan pengabdian. Semoga PALASARA Indonesia senantiasa diberi kekuatan untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi Indonesia yang lebih adil, berdaya, dan bermartabat,”imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Umum DPP PALASARA Indonesia, Andi Rusdianto Thalib Karaeng Dada Daeng Makleko, menjelaskan bahwa PALASARA merupakan singkatan dari Perhimpunan Agung Lembaga Adat Sulawesi Selatan dan Barat.
Ia menyampaikan bahwa PALASARA hadir sebagai rumah besar bagi seluruh lembaga adat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, dengan tujuan menjaga kelestarian adat tanpa mendominasi satu identitas tertentu.
“Karena di PALASARA yang utama bukan siapa dan dari mana asal kita, tetapi apa yang kita jaga bersama,” ujarnya.

Menurutnya, PALASARA merupakan organisasi yang independen dan tidak berada di bawah naungan organisasi atau identitas adat tertentu. Kendati demikian, independensi tersebut tidak dimaknai sebagai sikap tertutup.
“Independen bukan berarti berjalan sendiri. PALASARA membuka diri seluas-luasnya untuk bersinergi dan berkolaborasi dengan pemerintah, baik lintas provinsi maupun kabupaten dan kota,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pengurus PALASARA bukanlah pemimpin adat, melainkan penjaga amanah leluhur yang kelak harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, kepala daerah, serta kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Untuk itu, mari kita jaga dan rawat PALASARA sebagai rumah besar yang teduh, yang menyatukan, serta memberikan manfaat nyata bagi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat,” tutupnya










