"Temang Ta ini adalah budaya lokal yang diangkat sebagai upaya membangun disiplin positif siswa,” terangnya.
Menurut Fatmawati, ada tiga hal yang yang dilakukan yakni pembiasaan sehari-hari dengan berbahasa yang baik, sosialisasi dan kampanye melalui poster, dan pemilihan duta.
Guru pembimbing lainnya Andi Marauleng, S. Pd. I, menuturkan bahwa budaya Temang Ta harus diajarkan sedini mungkin.
"Karena dari kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus akan mengajarkan siswa untuk beretika dalam berkomunikasi," jelas Marauleng.
Etika berkomunikasi ini diharapkan menjadi praktik baik yang dapat menumbuhkan karakter budaya positif bagi siswa yang dapat diterapkan dimanapun berada.
"Budaya terima kasih, maaf, tolong dan tabe akan menuntun siswa untuk memiliki karakter yang bertanggung jawab, jujur, dan peduli dengan tetap mengedepankan kearifan lokal budaya sendiri,” kunci Marauleng.
Meski berbeda nasib, pembimbing lain dari cabang pusi dan tahfidz Qura’an Rosdianto, S. Pd. I, mengaku bangga anak didiknya dapat berpartisipasi dalam BSM Festival.
Menurut Rosdianto, dari 36 peserta hanya dua sekolah negeri sedang lainnya berasal dari sekolah Islam terpadu yang cukup ternama.
“Anak-anak kita sudah memberikan yang terbaik, tapi memang lawanya berat,” ungkapnya.
Kepala SMPN 27 Makassar Nurdin, S. Pd, SH., M. Pd mengapresiasi prestasi anak didiknya.










