Waktu Batu, Rumah yang Terbakar: Ekspresi Seni yang Memukau di Benteng Fort Rotterdam

Waktu Batu, Rumah yang Terbakar: Ekspresi Seni yang Memukau di Benteng Fort Rotterdam

KH
Kamsah Hasan

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Yudi Ahmad Tajudin selaku sutradara mengatakan dalam meluaskan dan mendekati secara kritis percakapan tentang tema duka ekologis, Teater Garasi menggarap ulang Waktu Batu, Rumah yang Terbakar tahun ini dengan menajamkan sisi kesilang-mediaan antara teater dengan video game, dan sinematografi, serta menguatkan unsur-unsur visual dan tata cahaya.

"Kenapa kami pilih Makassar karena Makassar buat saya pribadi cukup dekat. Saya dengan Garasi sudah berlangsung sejak 2003. Waktu itu ada festival sanggar Merah Putih, nama festivalnya Journal of Woman Art," kata Yudi.

Direktur Perfilman, Musik, dan Media Kemendikbudristek RI, Ahmad Mahendra, menuturkan pertunjukan silang media ini juga menjadi warna baru yang dapat menambah keragaman seni di tanah air yang juga tak lepas dari peran serta komunitas dalam memberikan perspektif baru suatu pertunjukan teater.

Dengan begitu, hal ini dapat mendorong pemajuan kebudayaan yang sedang menjadi perhatian pemerintah, dalam hal ini Kemendikbudristek.

"Ragam bentuk presentasi seni yang muncul membuat pemajuan kebudayaan menjadi lebih kuat karena dukungan karya kreatif hasil karya komunitas," tuturnya

Shinta Febriany, co-founder Kala Teater, menyebut akhirnya Teater Garasi pentas di Makassar dengan karya menakjubkan, Waktu Batu, Rumah yang Terbakar.

"Ini adalah kesempatan baik untuk menyaksikan karya teater yang dikerjakan dengan perspektif artistik dan tematik yang kontemporer. Mari kita alami Waktu Batu.”

Sementara, Direktur Program dan Kemitraan Rumata’ ArtSpace, Rachmat Hidayat Mustamin mengaku tertarik dengan pertunjukan tersebut lantaran gagasan yang ditawarkannya.

"Sebagaimana misalnya ketika saya menonton pertunjukan Teater Garasi, saya mau terlibat dan mengalami sebuah pertunjukan yang aneh dan mungkin kadang-kadang sureal, dan saya mau hadir menjadi bagian dari pertunjukan itu,” ungkapnya.

“Waktu Batu. Rumah yang Terbakar” diproduksi oleh Garasi Performance Institute dan dipersembahkan oleh Direktorat Perfilman, Musik, dan Media - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, dan didukung oleh EPSON Indonesia; Rumata’ ArtSpace; Kala Teater; Siku Ruang Terpadu; Jam Kerja; dan RIWANUA.