"Melalui kegiatan seperti posyandu, pelatihan keterampilan, hingga pengembangan usaha keluarga, kader PKK berupaya menghadirkan perubahan nyata bagi perempuan di lingkungan mereka," imbuhnya.
Menurut dr. Ani, gerakan PKK menjadi salah satu ruang bagi perempuan untuk saling belajar, saling menguatkan, sekaligus meningkatkan kapasitas diri.
“PKK menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat, khususnya perempuan di desa. Di sana perempuan mendapatkan akses terhadap berbagai program yang membantu mereka berkembang dan mandiri,” jelasnya.
Seiring perkembangan zaman, peran perempuan juga semakin luas. Jika dahulu perempuan sering dipandang hanya sebagai pendukung, kini mereka justru tampil sebagai pelopor dalam berbagai bidang pembangunan.
Di keluarga, perempuan berperan penting dalam mengelola keuangan rumah tangga dengan lebih bijak serta menanamkan nilai-nilai pendidikan yang modern kepada anak-anak.
Sementara di masyarakat, perempuan hadir sebagai pelaku usaha, aktivis sosial, hingga profesional di berbagai sektor strategis.
Kemampuan perempuan untuk menyeimbangkan peran di keluarga dan di ruang publik menunjukkan bahwa mereka mampu beradaptasi dengan dinamika zaman yang terus berkembang.
Di tengah perjalanan tersebut, dr. Ani juga mendorong perempuan untuk terus percaya pada potensi diri.

Menurutnya, setiap perempuan memiliki cerita dan kemampuan yang berbeda, yang justru menjadi kekuatan dalam membawa perubahan.
“Jangan biarkan stigma atau batasan tradisional menghalangi perempuan untuk berkembang. Terus belajar, saling mendukung, dan berani menyuarakan hal-hal yang penting bagi masa depan perempuan,” ujarnya.










