Walhi Kritik Penanganan Pasca-Kebocoran Pipa, Ini Jawaban PT Vale Indonesia

Walhi Kritik Penanganan Pasca-Kebocoran Pipa, Ini Jawaban PT Vale Indonesia

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini, Makassar - Penanganan pasca-insiden kebocoran pipa minyak di Kawasan Towuti, Luwu Timur, menjadi sasaran sorotan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan, saat menggelar konferensi dengan wartawan pada Selasa 31 Maret 2026 lalu.

Walhi menilai penanganan dampak kebocoran pipa minyak PT Vale Indonesia di Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, belum tuntas.

Direktur Eksekutif WALHI Sulsel, Muhammad Al Amin, menyoroti beberapa hal, seperti ganti rugi kepada warga yang terdampak, hingga beberapa sungai yang masih terlihat titik-titik minyak.

"Dari hasil pemantauan kami dengan melihat langsung beberapa titik sungai, masih ada beberapa spot yang airnya masih terkena minyak," kata Al Amin.

Meskipun, WALHI belum melakukan observasi dengan meneliti air tersebut di laboratorium, dan belum melihat lebih dalam apakah bagian tanah di sungai-sungai dan sawah ikut tercemar.

Hal positifnya, WALHI menyebut sungai-sungai yang masih tercemar tersebut bukan sungai yang dikonsumsi oleh warga.

WALHI juga menyoroti belum adanya sanksi tegas terhadap pihak yang dinilai bertanggung jawab. Hingga kini, belum ada tindakan yang dianggap memberi efek jera atas insiden tersebut.

"CEO PT Vale harus segera menyampaikan keterangan kepada publik seperti apa proses perbaikan pipa minyak tersebut dan seberapa kuat pipa itu bisa menahan gempa yang setiap saat terjadi di Sorowako, Towuti dan Wasuponda," tutur Al Amin.

Terkait proses ganti rugi kepada warga, WALHI menyebut sebagian warga terdampak telah menerima kompensasi, namun masih ada sebagian kecil yang belum.

"Sawah terpapar minyak dan pemilik sawah itu 71 persen sudah diganti tapi 29 persen lainnya belum diganti rugi. Warga berharap ganti rugi segera direalisasikan untuk memulihkan cemaran sebelumnya," ucap Al Amin.