Lebih dari sekadar teknik, workshop ini menekankan pentingnya penautan identitas dalam karya.
Peserta diajak menggali nilai-nilai budaya, kearifan lokal, serta karakter personal untuk diintegrasikan ke dalam cerita sehingga skenario yang dihasilkan tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki kedalaman makna dan jati diri yang kuat.
Melalui pendekatan praktis, program ini menjadi ruang kolaboratif untuk melahirkan kisah-kisah baru yang relevan dengan dunia anak sekaligus membawa napas identitas yang autentik.
Pertunjukan Surung Lalan: Doa dan Harapan dari Ritus Nusantara
MTN Seni Budaya bidang Seni Pertunjukan tak ketinggalan hadir di MIWF 2026 melalui MTN Presentasi dari kelompok Igal Performance Lab berjudul Surung Lalan.
Karya ini mengeksplorasi untaian doa dan harapan dari ritus-ritus Nusantara. Gagasan ini sejalan dengan fokus MIWF 2026, sub-tema “Home & Belonging” serta “Nourishment & Care” yang menyoroti isu ekologi, relasi manusia dengan tanah, kerja perawatan komunitas, hingga respons emosional terhadap krisis iklim.
Melalui medium gerak dan bunyi, pertunjukan ini mengajak penonton merefleksikan bagaimana manusia merawat akar dan keterhubungannya dengan alam.
Secara sosiokultural, Surung Lalan mengeksplorasi hubungan ikat kait antara Patati dan Balian yang bersumber dari mantra pembuka jalan dalam ritual penyembuhan adat.
Digarap oleh Abib Habibi Igal, Daniel Nuhan, Ardi Kenzu, dan Dani Hartani, pertunjukan ini membenturkan harmoni spiritual tradisional dengan kesadaran ruang kritis modern melalui hentakan Gandrang dan gema Galang Hiyang. Kehadirannya di panggung MIWF 2026 membawa pesan tentang pentingnya ketangguhan kolektif dalam menghadapi ancaman ekosida dan hilangnya keragaman hayati, sekaligus menjadi ajakan untuk terus merawat akar ekosistem dan harapan akan kesembuhan semesta.
“Kehadiran MTN Seni Budaya lintas bidang di MIWF 2026 bukan hanya membuktikan bahwa tema ‘Re-co-ordinate’ relevan dan penting, tetapi juga menunjukkan bahwa seni budaya adalah bagian integral yang tidak bisa dilepaskan dari upaya bersama kita untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik,” kata Aan Mansyur, Direktur Makassar International Writers Festival.










