Banyak warga yang penasaran dan bertanya dari mana asal mereka serta agenda apa yang hendak dituju.
"Kalau ada warga lokal yang tanya, saya kelakar saja jawab: 'Kami ini dari Sulawesi, dari Sigi, mau ke acara ormas terbesar ketiga di Indonesia!'" ujar Ahmad sambil tertawa.
Ia mengaku momen interaksi tersebut menjadi sarana syiar yang menggelitik sekaligus mengenalkan dakwah Wahdah Islamiyah kepada masyarakat awam yang sebelumnya belum pernah mendengar nama ormas tersebut.
Menutup perbincangan, ia membagikan pesan mendalam bagi para peserta Muktamar lainnya. Bagi seorang pengendara (biker), jarak dan angka di spidometer bukanlah tujuan utama.
"Jarak itu cuma angka. Yang paling berharga adalah pengalaman sepanjang perjalanan: merasakan letihnya, istirahat di warung-warung warga, dan berdialog langsung dengan masyarakat di sepanjang jalur. Siapapun bisa menirunya, yang penting adalah keikhlasan dan kebersamaan," pungkasnya.









