"Media memiliki peran strategis dalam pendekatan kampanye publik. Informasi yang valid, akurat, dan mudah dipahami dapat mempengaruhi pemahaman, sikap, dan tindakan masyarakat dalam pencegahan stunting,"bebernya.
"Untuk itu, pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya pencegahan stunting," lanjutnya.
Sementara itu, perwakilan dari UNICEF, Nike Frans, dalam sambutannya menyampaikan bahwa ada tiga beban gizi.
Ketiga beban itu, kata dia berupa kekurangan gizi (stunting), kelebihan berat badan (obesitas) dan kekurangan zat gizi mikro (anemia).
Dalam kesempatan itu, dirinya berharap melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu langkah kongkrit dalam mencegah stunting.
"Berharap agar dapat membangun kolaborasi semua pihak dalam pencegahan stunting. Berharap juga agar media dapat memberikan kontribusi dalam penyebaran informasi kepada masyarakat," pungkasnya.
Di samping itu, Kepala Bappelitbangda Sulsel, Setiawan Aswad dalam paparannya menekankan betapa pentingnya penanganan stunting sebagai persoalan serius yang berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia.
“Ini bukan hanya soal fisik, tapi soal kognitif. SDM kita ditentukan dari penanganan stunting hari ini,”tegasnya
Penanganan stunting menurut dia memerlukan komitmen kuat dari semua jenjang pemerintahan, mulai dari desa hingga tingkat pusat.
Dirinya juga menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Sulsel berencana memberikan apresiasi bagi kabupaten/kota yang mampu melaksanakan aksi nyata di lapangan, termasuk dalam hal edukasi publik seperti bahaya rokok sebagai salah satu penyebab stunting.










