“Kami menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh peserta qurban. Semoga Allah SWT membalas dengan limpahan keberkahan dan rahmat-Nya,” ujarnya.
Ia mengatakan, di tengah tantangan ekonomi dan berbagai kesibukan hidup di perantauan, semangat berqurban warga Bulukumba tetap tumbuh.
Ada keyakinan bahwa berbagi kepada kampung halaman adalah bagian dari menjaga identitas dan akar kebersamaan sebagai orang Bulukumba.
“Perintah qurban ada dalam Al-Qur’an, sebagaimana shalat. Maka kita upayakan untuk tetap melaksanakannya. Berqurban di kampung halaman Butta Panrita Lopi mempererat tali silaturahim dengan keluarga, masyarakat, dan pemerintah,” katanya.
Bagi warga KM Bulukumba, qurban bersama bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban. Ia adalah cara menjaga hubungan hati dengan tanah kelahiran.
Sebuah pengingat bahwa sejauh apa pun langkah merantau, kampung halaman akan selalu punya tempat istimewa untuk kembali berbagi.
“Walau jarak memisahkan, hati tetap dekat. Ini adalah bagian dari menebar kebaikan dan kebahagiaan demi menggapai rida Ilahi,” tandas Jumrana.










