Layanan tersebut mengintegrasikan WhatsApp Chatbot sebagai media komunikasi dan koordinasi awal dengan Zoom sebagai ruang konsultasi teknis secara interaktif.
WhatsApp Chatbot berfungsi sebagai front office digital yang memberikan akses informasi secara cepat dan terstruktur. Sementara itu, Zoom digunakan untuk konsultasi dan pendampingan yang membutuhkan pembahasan teknis lebih mendalam.
“Digitalisasi memungkinkan proses layanan menjadi lebih mudah diakses dan berkesinambungan. Namun, teknologi tetap harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat kualitas pembinaan dan pendampingan,” kata Azri.
Penguatan Sinergi Pusat dan Daerah
Implementasi Green Governance Hub juga dilakukan melalui sinkronisasi kebijakan dan koordinasi lintas sektor. Dalam tahap awal, Pusdal LH Sulawesi dan Maluku menyusun SOP kolaboratif dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Kementerian Dalam Negeri sebagai acuan pelaksanaan di daerah.
Langkah tersebut diharapkan memperkuat dukungan kepala daerah, lembaga, serta pemangku kepentingan dalam pelaksanaan Green Governance Hub.
Selain itu, aparatur Pusdal LH menjalankan peran sebagai analis data dan fasilitator dalam proses pembinaan dan pendampingan. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antara data, analisis, pembinaan, pemantauan, dan tindak lanjut.
Green Governance Hub juga mendorong pendekatan Eco-Incentive, sehingga peningkatan ketaatan lingkungan dapat menjadi bagian dari investasi hijau, peningkatan reputasi, dan keunggulan berkelanjutan.
“Yang kita bangun bukan hanya sebuah sistem, tetapi sebuah ekosistem kolaborasi. Pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat memiliki peran dalam membangun budaya ketaatan dan menjaga keberlanjutan lingkungan,” ujar Azri.
Melalui Green Governance Hub, Pusdal LH Sulawesi dan Maluku mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bergerak bersama membangun tata kelola lingkungan yang kolaboratif, cerdas, taat, dan berkelanjutan.
Green Governance Hub — Kolaborasi untuk Lingkungan yang Lebih Baik.










